| No | Lokasi Pengamatan | Ketinggian Terakhir | Lokasi | Kab/Kota | DAS Polder | Selisih Waktu Dengan Saat ini | Ketinggian Hari Ini | Curah Hujan 1 Minggu | Curah Hujan 1 Bulan | Curah Hujan 1 Tahun |
|---|
Posko Banjir
Portal data
Sinarji
UP4
SIGA
Mobile App TMA
E-Monev
Penomoran Surat
SPP/SPM
Mail Merge
Sistem Mail Merge
Dinas Sumber Daya Air
Sistem Mail Merge
Suku Dinas Sumber Daya Air
Sistem Penomoran Surat
Dinas Sumber Daya Air
Sistem Penomoran Surat
Suku Dinas Sumber Daya Air
Gambar Udara Sungai Ciliwung
Banjir Jakarta bukan hanya persoalan hujan yang turun di dalam kota. Sebagai wilayah hilir, Jakarta juga menerima aliran air dari kawasan hulu di Jabodetabek dan sekitarnya. Ketika air dari hulu datang bersamaan dengan hujan deras di Jakarta, persoalan banjir menjadi jauh lebih kompleks.
Jakarta dilalui 13 sungai utama yang alirannya berasal dari wilayah Jabodetabek dan sekitarnya. Sungai-sungai tersebut tersebar di lima wilayah kota dan melintasi kawasan permukiman, pusat ekonomi, jaringan transportasi, serta berbagai pusat aktivitas masyarakat. Karena berada di wilayah hilir, Jakarta menjadi salah satu titik akhir perjalanan air sebelum mengalir ke laut.
Artinya, air yang harus ditangani Jakarta bukan hanya air hujan yang turun di dalam kota. Ada pula air yang datang dari wilayah hulu.
Ketika Sungai Sudah Penuh
Sistem drainase Jakarta pada akhirnya mengalirkan air menuju sungai. Dalam kondisi normal, air hujan dari kawasan perkotaan masuk ke jaringan drainase, kemudian diteruskan ke sungai dan selanjutnya dialirkan ke laut. Masalah muncul ketika sungai sudah menerima debit besar dari wilayah hulu. Jika kapasitas sungai sudah penuh atau hampir penuh, air dari jaringan drainase Jakarta akan lebih sulit masuk ke sungai.
Akibatnya, aliran air menjadi lambat dan genangan di dalam kota dapat bertahan lebih lama. Kondisi tersebut menjadi semakin berat jika Jakarta juga mengalami hujan deras pada waktu yang sama.
Dengan demikian, Jakarta dapat menghadapi tiga tekanan sekaligus: air dari hulu, hujan di dalam kota, dan pasang air laut atau rob. Ketika rob terjadi, air di hilir menjadi lebih sulit mengalir ke laut. Akibatnya, seluruh sistem pengaliran air di Jakarta dapat mengalami perlambatan.
Bukan Hanya Soal Tinggi Genangan
Bagi warga Jakarta, banjir bukan hanya soal seberapa tinggi air menggenang. Berapa lama banjir bertahan dan seberapa cepat air surut juga menjadi persoalan utama. Genangan yang bertahan lama dapat mengganggu perjalanan, kegiatan ekonomi, sekolah, pekerjaan, hingga aktivitas sehari-hari masyarakat. Karena itu, kemampuan sistem banjir untuk mengalirkan air dengan cepat menjadi sangat penting. Tantangannya, kapasitas infrastruktur Jakarta masih memiliki batas.
Kapasitas infrastruktur mikro berada pada kisaran 100 milimeter per hari, sedangkan infrastruktur makro berada pada kisaran 150 milimeter per hari.
Gambaran mengenai besarnya tekanan terhadap sistem dapat dilihat dari banjir besar 2020. Saat itu, debit banjir mencapai sekitar 3.389 meter kubik per detik. Angka tersebut lebih besar dibandingkan kapasitas desain sekitar 2.357 meter kubik per detik, dan jauh di atas kapasitas eksisting yang berada di kisaran 1.414 meter kubik per detik.
Data tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara debit air yang dapat datang saat kondisi ekstrem dengan kemampuan sistem untuk menampung dan mengalirkannya.
Sungai Harus Tetap Menjadi Jalur Air
Kepala Dinas SDA DKI Jakarta, Ika Agustin Ningrum pada acara Jakarta Reimagined, 30 Agustus 2026 lalu mengingatkan sungai memang dapat menjadi bagian dari ruang kota—sebagai ruang publik, kawasan hijau, jalur konektivitas, maupun bagian dari wajah kota. Namun, kata dia, fungsi hidrauliknya tidak boleh berkurang.
Sungai tetap harus mampu menampung debit banjir sebesar mungkin dan mengalirkan air menuju laut dengan cepat. Karena itu, setiap pengembangan koridor sungai harus memperhatikan kapasitas aliran dan keselamatan.
“Jangan sampai pengembangan kawasan justru mengurangi ruang yang dibutuhkan sungai ketika menghadapi debit besar. Ruang publik dan kualitas kawasan sungai dapat dikembangkan, tetapi harus berjalan bersama dengan fungsi utama sungai sebagai bagian dari sistem pengendalian banjir," ujarnya.
Jakarta Harus Berpacu dengan Waktu
Jakarta tidak dapat mengendalikan seluruh air yang datang dari wilayah hulu. Namun, upaya yang dapat dilakukan ialah dengan memastikan sistem di dalam kota mampu menghadapi air yang datang tersebut. Drainase harus mampu mengalirkan air ke sungai. Sungai harus memiliki kapasitas yang cukup untuk menerima debit. Sistem pengendalian banjir harus mampu bekerja ketika hujan ekstrem terjadi. Dan ketika rob datang, sistem harus tetap memiliki kemampuan untuk mengalirkan air secepat mungkin.
“Pada akhirnya, persoalan banjir Jakarta bukan hanya tentang berapa banyak air yang datang, tetapi juga seberapa cepat air tersebut dapat keluar dari kota.”
Bagi warga, perbedaannya sangat terasa. Sebab banjir yang tinggi tetapi cepat surut akan memberikan dampak yang berbeda dengan banjir yang lebih rendah tetapi bertahan selama berjam-jam atau bahkan berhari-hari. Karena itu, menjaga kapasitas sungai dan mempercepat waktu surut harus menjadi bagian penting dalam setiap upaya penanganan banjir Jakarta.
Komentar