Pilih Sistem GPS Tracking yang ingin diakses Mail Merge Logo GPS Alat Berat Mail Merge Logo GPS Dumptruck Mail Merge Logo GPS Pompa Mobile

Berita & Artikel

Potensi Banjir Rob...

Pesisir utara Jakarta berpotensi mengalami banjir rob pada 13-14 dan 25-31 Oktober 2026. Hal ini berdasarkan hasil pemodelan kondisi penurunan tanah, sea level rise, elevasi pesisir, dan pasang surut Teluk Jakarta.Pesisir Jakarta berpotensi mengalami banjir rob dengan pasang tertinggi 0,64 meter dari mean sea level (MSL) atau permukaan laut rata-rata pada sekira pukul 15.00 WIB.Berikut wilayah rentan yang berpotensi banjir rob di antaranya:TanjunganMuara AngkeMuara BaruPasar IkanAncol Marina dan JISTanjung Priok dan Kali BaruMarunda Pemodelan potensi banjir rob dapat berubah akibat pembangunan, faktor non-pasang surut seperti anomali permukaan laut dan gelombang tinggi akibat angin serta upaya penanggulangan yang dilakukan.Adapun upaya mitigasi yang dilakukan Dinas Sumber Daya Air (SDA) Provinsi DKI Jakarta melalui Suku Dinas SDA Jakarta Utara tetap melakukan penyiagaan dan pengoperasian pompa serta berbagai upaya antisipasi potensi banjir rob. Penyiagaan Pompa Stasioner, Pompa Mobile dan Pintu AirTerdapat sebanyak 194 unit pompa stasioner di 71 lokasi wilayah Kota Administrasi Jakarta Utara. Pompa mobile digunakan untuk menjangkau lokasi banjir yang tidak terlayani pompa stasioner.Berikut daftar rumah pompa dan pintu air di pesisir yang disiagakan:- Pintu Air Marina- Pompa/Polder Kali Asin- Rumah Pompa Pluit- Pompa Ancol- Pompa Junction PIK- Pompa Muara Angke- Pompa Pasar Ikan- Pompa Tanjungan- Pompa Polder Kamal Penyiagaan Satgas SDADinas SDA juga menyiagakan Satgas (Pasukan Biru) yang siap bergerak jika terjadi banjir rob di pesisir Jakarta. Pasukan Biru ini juga dikerahkan untuk berjaga dan melakukan pemantauan rutin demi memastikan kondisi lapangan tetap terkendali.Masyarakat diimbau agar tetap berhati-hati dan waspada terhadap potensi genangan. Masyarakat juga dapat memantau perkembangan banjir rob melalui laman bpbd.jakarta.go.id/gelombanglaut, Aplikasi JAKI atau menghubungi 112 jika mendapatkan kondisi darurat.

Tinjau Anak Kali Kr...

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meninjau kegiatan pengerukan Anak Kali Krukut di kawasan Kelurahan Kebon Melati, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat, pada Senin (28/9/2026). Ia berkata bahwa memaksimalkan drainase di kawasan tersebut tidak bisa hanya dilakukan dengan pengerukan. Untuk itu, sambungnya, perlu dilakukan penataan di kawasan tersebut. Adapun kawasan yang akan ditata rencananya dilakukan sepanjang 2,3 km.“Hari ini saya sengaja secara khusus datang kembali ke Anak Kali Krukut. Di mana Pemerintah DKI Jakarta melakukan penataan penggalian sungai yang ada di tempat ini, panjangnya kurang lebih 2,3 kilometer,” ujarnya saat konferensi pers.Mantan Sekretaris Kabinet ini menjelaskan, penataan akan dilakukan secara menyeluruh dengan perencanaan yang matang. Adapun upaya yang akan dilakukan di antaranya dengan membangun tanggul kali dengan turap. Kemudian akan dibuatkan pula faslitias mandi, cuci, kakus (MCK) sehingga masyarakat memiliki sanitasi yang baik. Selain itu, penghijauan juga akan dilakukan di area sepanjang 2,3 km tersebut.Namun demikian, Gubernur juga mengingatkan masyarakat turut menjaga kebersihan lingkungan agar  nantinya upaya penataan Anak Kali Krukut berhasil mewujudkan kawasan yang rapih dan bersih serta fungsi drainasenya dapat dimaksimalkan.“Jadi nanti perubahannya tidak setengah-setengah lagi, tidak hanya sekadar digali supaya lancar, tetapi ditangani secara menyeluruh. Termasuk dilakukan penghijauan, dilakukan turap, MCK-nya dibangun, dan sebagainya,” ujarnya.Gubernur meminta perencanaan penataan kawasan Anak Kali Krukut di Kelurahan Kebon Melati ini segera dibuat, sehingga dapat dilaksanakan pada tahun 2027 dan ditargekan rampung pada akhir 2028 mendatang.“Kemudian awal tahun depan sudah harus dimulai. Mungkin perlu waktu 1 tahun,” ujarnya. “Dan mudah-mudahan akhir tahun 2028 tempat ini menjadi tempat yang berbeda seperti yang menjadi harapan kita bersama.”

Upaya Dinas SDA Mem...

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, melalui Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta melakukan upaya-upaya mitigasi kekeringan akibat musim kemarau. Setidaknya ada 3 langkah strategis untuk mengantisipasi potensi kekeringan tersebut.Langkah pertama sekaligus sebagai upaya jangka pendek dilakukan dengan mendistribusikan air bersih melalui mobil tanki ke daerah yang belum terlayani air bersih perpipaan.Sebagai langkah menengah, Pemprov DKI melakukan pembangunan reservoir komunal dan penguatan sistem air bersih.Kemudian untuk jangka panjang dilakukan melalui pembangunan infrastruktur pengolahan air siap pakai yang tersebar merata.Dinas SDA DKI Jakarta bersama PAM Jaya menyiagakan 70 unit mobil tanki air bersih, 5 IPA Mobile dan 22 Kios Air di wilayah Jakarta Utara dan Jakarta Barat yang siap disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan.Selain IPA Mobile, Dinas SDA juga punya IPA IPA yang disiagakan yang saat ini sudah dikelola PAM Jaya seperti IPA Setu Babakan 30 LPS, IPA Tomang kapasitas 20 LPS, IPA Danau Sunter Selatan 5 LPS dan IPA Pompa Ancol 5 LPS.Kemudian bagi masyarakat Jakarta yang membutuhkan bantuan air bersih dapat bersurat secara resmi ke Dinas Sumber Daya Air Provinsi DKI Jakarta. Permohonan akan segera ditindaklanjuti sehingga suplai air bersih dapat diterima bagi masyarakat terdampak kekeringan.Pemprov DKI Jakarta juga mengajak masyarakat untuk beralih dari penggunaan air tanah ke air bersih perpipaan. Selain suplai air yang lebih stabil, penggunaan air bersih perpipaan juga dapat mengurangi potensi penurunan permukaan tanah akibat penggunaan air tanah berlebih.

Sungai-sungai di Ja...

Banjir Jakarta bukan hanya persoalan hujan yang turun di dalam kota. Sebagai wilayah hilir, Jakarta juga menerima aliran air dari kawasan hulu di Jabodetabek dan sekitarnya. Ketika air dari hulu datang bersamaan dengan hujan deras di Jakarta, persoalan banjir menjadi jauh lebih kompleks.Jakarta dilalui 13 sungai utama yang alirannya berasal dari wilayah Jabodetabek dan sekitarnya. Sungai-sungai tersebut tersebar di lima wilayah kota dan melintasi kawasan permukiman, pusat ekonomi, jaringan transportasi, serta berbagai pusat aktivitas masyarakat. Karena berada di wilayah hilir, Jakarta menjadi salah satu titik akhir perjalanan air sebelum mengalir ke laut.Artinya, air yang harus ditangani Jakarta bukan hanya air hujan yang turun di dalam kota. Ada pula air yang datang dari wilayah hulu.Ketika Sungai Sudah PenuhSistem drainase Jakarta pada akhirnya mengalirkan air menuju sungai. Dalam kondisi normal, air hujan dari kawasan perkotaan masuk ke jaringan drainase, kemudian diteruskan ke sungai dan selanjutnya dialirkan ke laut. Masalah muncul ketika sungai sudah menerima debit besar dari wilayah hulu. Jika kapasitas sungai sudah penuh atau hampir penuh, air dari jaringan drainase Jakarta akan lebih sulit masuk ke sungai.Akibatnya, aliran air menjadi lambat dan genangan di dalam kota dapat bertahan lebih lama. Kondisi tersebut menjadi semakin berat jika Jakarta juga mengalami hujan deras pada waktu yang sama.Dengan demikian, Jakarta dapat menghadapi tiga tekanan sekaligus: air dari hulu, hujan di dalam kota, dan pasang air laut atau rob. Ketika rob terjadi, air di hilir menjadi lebih sulit mengalir ke laut. Akibatnya, seluruh sistem pengaliran air di Jakarta dapat mengalami perlambatan.Bukan Hanya Soal Tinggi GenanganBagi warga Jakarta, banjir bukan hanya soal seberapa tinggi air menggenang. Berapa lama banjir bertahan dan seberapa cepat air surut juga menjadi persoalan utama. Genangan yang bertahan lama dapat mengganggu perjalanan, kegiatan ekonomi, sekolah, pekerjaan, hingga aktivitas sehari-hari masyarakat. Karena itu, kemampuan sistem banjir untuk mengalirkan air dengan cepat menjadi sangat penting. Tantangannya, kapasitas infrastruktur Jakarta masih memiliki batas.Kapasitas infrastruktur mikro berada pada kisaran 100 milimeter per hari, sedangkan infrastruktur makro berada pada kisaran 150 milimeter per hari.Gambaran mengenai besarnya tekanan terhadap sistem dapat dilihat dari banjir besar 2020. Saat itu, debit banjir mencapai sekitar 3.389 meter kubik per detik. Angka tersebut lebih besar dibandingkan kapasitas desain sekitar 2.357 meter kubik per detik, dan jauh di atas kapasitas eksisting yang berada di kisaran 1.414 meter kubik per detik.Data tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara debit air yang dapat datang saat kondisi ekstrem dengan kemampuan sistem untuk menampung dan mengalirkannya.Sungai Harus Tetap Menjadi Jalur AirKepala Dinas SDA DKI Jakarta, Ika Agustin Ningrum pada acara Jakarta Reimagined, 30 Agustus 2026 lalu mengingatkan sungai memang dapat menjadi bagian dari ruang kota—sebagai ruang publik, kawasan hijau, jalur konektivitas, maupun bagian dari wajah kota. Namun, kata dia, fungsi hidrauliknya tidak boleh berkurang.Sungai tetap harus mampu menampung debit banjir sebesar mungkin dan mengalirkan air menuju laut dengan cepat. Karena itu, setiap pengembangan koridor sungai harus memperhatikan kapasitas aliran dan keselamatan.“Jangan sampai pengembangan kawasan justru mengurangi ruang yang dibutuhkan sungai ketika menghadapi debit besar. Ruang publik dan kualitas kawasan sungai dapat dikembangkan, tetapi harus berjalan bersama dengan fungsi utama sungai sebagai bagian dari sistem pengendalian banjir," ujarnya.Jakarta Harus Berpacu dengan WaktuJakarta tidak dapat mengendalikan seluruh air yang datang dari wilayah hulu. Namun, upaya yang dapat dilakukan ialah dengan memastikan sistem di dalam kota mampu menghadapi air yang datang tersebut. Drainase harus mampu mengalirkan air ke sungai. Sungai harus memiliki kapasitas yang cukup untuk menerima debit. Sistem pengendalian banjir harus mampu bekerja ketika hujan ekstrem terjadi. Dan ketika rob datang, sistem harus tetap memiliki kemampuan untuk mengalirkan air secepat mungkin.“Pada akhirnya, persoalan banjir Jakarta bukan hanya tentang berapa banyak air yang datang, tetapi juga seberapa cepat air tersebut dapat keluar dari kota.”Bagi warga, perbedaannya sangat terasa. Sebab banjir yang tinggi tetapi cepat surut akan memberikan dampak yang berbeda dengan banjir yang lebih rendah tetapi bertahan selama berjam-jam atau bahkan berhari-hari. Karena itu, menjaga kapasitas sungai dan mempercepat waktu surut harus menjadi bagian penting dalam setiap upaya penanganan banjir Jakarta.

Jakarta Berpotensi...

Pesisir Jakarta berpotensi kembali mengalami banjir rob pada 29–30 September 2026, mulai pukul 18.00 WIB, setelah periode potensi rob sebelumnya pada 6–8 September 2026 telah berlalu. Hal ini berdasarkan hasil pemodelan kondisi penurunan tanah, sea level rise, elevasi pesisir, dan pasang surut Teluk Jakarta, dengan pasang laut tertinggi diperkirakan mencapai 0,45 meter dari Mean Sea Level (MSL).Berdasarkan pemodelan tersebut, sejumlah kawasan pesisir Jakarta masuk dalam kategori berpotensi terdampak banjir rob, di antaranya:* Tanjungan (Potensi Tinggi) — sekitar Rumah Pompa Tanjungan dan kawasan tambak* Muara Angke (Potensi Tinggi) — kawasan permukiman Pelabuhan Muara Angke (RT11/RW11, RT01/RW22, RT02/RW22)* Muara Baru (Potensi Tinggi) — kawasan pelabuhan dan industri Muara Baru* Pasar Ikan (Potensi Sedang) — area Pelabuhan Pasar Ikan (Sunda Kelapa)* Ancol Marina & JIS (Potensi Rendah) — sekitar Perempatan Gunung Sahari, Marina, dan depan JIS* Tanjung Priok & Kali Baru (Potensi Rendah) — Jalan Industri RT01/RW15 dan sekitar Sulawesi RT03/RW02* Marunda (Potensi Tinggi) — sekitar Museum Si Pitung (RT02/RW07, RT03/RW07, RT07/RW07)Upaya Kesiapsiagaan Dinas SDAMenghadapi potensi banjir rob pada periode tersebut, Dinas Sumber Daya Air Provinsi DKI Jakarta bersama Suku Dinas SDA di wilayah terdampak tetap melakukan penyiagaan pompa, pintu air, dan personel di titik-titik rawan sebagai langkah antisipasi dan penanggulangan cepat bila genangan terjadi.Dinas Sumber Daya Air (SDA) Provinsi DKI Jakarta mengingatkan bahwa pemodelan potensi banjir rob ini dapat berubah sewaktu-waktu, dipengaruhi oleh kondisi pembangunan atau kebocoran tanggul, serta faktor non-pasang surut seperti anomali permukaan laut dan gelombang tinggi akibat angin.Masyarakat yang berdomisili maupun beraktivitas di wilayah pesisir Jakarta diimbau untuk tetap waspada, terutama pada rentang waktu dan lokasi yang disebutkan di atas. Informasi perkembangan banjir rob dapat dipantau melalui laman bpbd.jakarta.go.id/gelombanglaut, Aplikasi JAKI, atau menghubungi 112 untuk kondisi darurat.Bagi warga yang tinggal atau beraktivitas di wilayah berpotensi terdampak, ada sejumlah langkah kesiapsiagaan yang bisa disiapkan. Warga diimbau memantau informasi resmi secara berkala melalui kanal Dinas SDA atau BPBD DKI Jakarta, serta menyiapkan tas siaga berisi dokumen penting, obat-obatan, dan kebutuhan darurat. Barang elektronik dan perabot juga sebaiknya diamankan ke tempat yang lebih tinggi bagi warga yang tinggal di area rawan. Selain itu, warga diminta menghindari beraktivitas di area pesisir yang rawan pada rentang tanggal dan jam yang diperkirakan, serta segera menghubungi 112 apabila menemukan kondisi darurat di lapangan. Naskah: Amanda Rizka SalsabilaEditor: Naufal Lanten

DSDA Jakarta Kerahk...

Dinas Sumber Daya Air (SDA) Provinsi DKI Jakarta melakukan penanganan dampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK) yang tersebar di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Penanganan dilakukan dengan mengerahkan truk jetting combi di beberapa lokasi pada Senin (7/9/2026) siang.Penyemprotan dilakukan bersama dengan jajaran Suku Dinas SDA di tiap-tiap Kota Administrasi Jakarta. Berikut ruas jalan dan wilayah yang dilakukan penyemprotan guna mengurangi debu vulkanik yang beterbangan.- Jl Pangeran Tubagus Angke, Tambora, Jakarta Barat.- Jl Panjang, Kebon Jeruk, Jakarta Barat.- Jl Cempaka Putih Barat, Cempaka Putih, Jakarta Pusat.- Jl Pualam, Sumur Batu, Kemayoran, Jakarta Pusat.- Jl Bank, Pela Mampang, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.- Jl Pasar Minggu Raya, Pejaten Barat, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.- Jl Denu Waduk Cimanggis, Cibubur, Ciracas, Jakarta Timur.- Jl Gatot Subroto, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.- Jembatan Jl Kampung Bandan, Jakarta Utara- Kawasan Perumahan Elok, Pulo Gebang, Cakung, Jakarta Timur.Upaya mitigasi itu terus dilakukan secara berkelanjutan, sesuai dengan perkembangan kondisi di lapangan. Langkah ini diharapkan mampu menjaga kualitas udara, kenyamanan, serta keselamatan masyarakat di tengah potensi dampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Masyarakat juga diimbau tidak panik dan melakukan aktifitas seperti biasa dengan menjaga kesehatan seperti mengenakan masker saat berada di luar lapangan dan memantau informasi dari kanal resmi.

Percepat Pengendali...

Dinas Sumber Daya Air (SDA) Provinsi DKI Jakarta melakukan serah terima 10 unit pompa mobile baru ke 5 Suku Dinas Kota Administrasi Jakarta. Serah terima itu dilakukan di Rumah Pompa Waduk Sunter Selatan, Jakarta Utara, Rabu (26/8/2026).Rinciannya, sebanyak 5 unit pompa mobile memiliki kapasitas 60.000 liter per menit dan 5 unit berkapasitas 40.000 liter per menit. Setiap Sudin SDA mendapatkan 2 unit pompa mobile baru. Adapun ke lima wilayah tersebut di antaranya Suku Dinas (Sudin) SDA Jakarta Pusat, Sudin SDA Jakarta Utara, Sudin SDA Jakarta Barat, Sudin SDA Jakarta Timur, Sudin SDA Jakarta Selatan.Sekretaris Dinas SDA DKI Jakarta, Nugraharyadi menyampaikan bahwa serah terima ini dilakukan berdasarkan arahan Kepala Dinas SDA DKI Jakarta yang berutujuan untuk mempercepat penanganan banjir di lokasi yang sulit atau genangan yang tidak bisa dijangkau pompa stasioner.Selain itu, pria yang akrab disapa Meidi ini menambahkan kehadiran pompa ini menjadi amunisi baru untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Ini juga perlu diukung dengan kemampuan para operator pompa yang perlu dijaga dan ditingkatkan.“Standarnya minimal kayak Pemadam Kebakaran. Damkar kan kalau ada kabar berita tentang kebakaran langsung cepat kan. Itu minimal. Jadi pada saat nanti ada kejadian genangan, ada kejadian banjir di lapangan seperti itu,” katanya.Kepala Bidang Pengendalian Banjir dan Drainase Dinas SDA DKI Jakarta, Ericson Indra Pulungan berharap kehadiran 10 unit pompa baru di 5 kota admnisitrasi Jakarta ini dapat mempercepat penanganan genangan.“Harapannya dengan pengadaan pompa mobil yang baru ini dapat meningkatkan penanganan genangan yang tejadi di Jakarta dan menjadi respon cepat bagi kami Dinas SDA DKI Jakarta untuk penangnan banjir yang lebih cepat,” tuturnya.Kegiatan serah terima ini turut dihadiri para Kepala Seksi Pengelolaan Sarana Pengendali Banjir Sudin SDA dari 5 Kota Administrasi Jakarta.

Normalisasi Kali Ca...

Normalisasi Kali Cakung Lama dapat Kurangi Potensi Banjir hingga 20 Persen di Kelapa Gading dan CilincingNormalisasi Kali Cakung Lama diharapkan memberikan dampak signifikan terhadap pengurangan banjir, khususnya di Kecamatan Kelapa Gading dan Cilincing, Jakarta Utara. Berdasarkan perhitungan pemerintah, normalisasi tersebut diproyeksikan mampu mengurangi genangan banjir hingga sekitar 20 persen di kawasan terdampak.Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan manfaat utama normalisasi Kali Cakung Lama akan dirasakan masyarakat di dua kecamatan tersebut. Selama ini, sejumlah wilayah di Kelapa Gading dan Cilincing kerap mengalami banjir dengan ketinggian yang cukup signifikan.“Yang paling utama adalah dua kecamatan yaitu Kelapa Gading dan Cilincing pasti akan berkurang secara signifikan,” ujarnya seusai meninjau Kali Cakung Lama di Jalan Gading Griya Lestari, Pegangsaan Dua, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis (13/8/2026).Dampak banjir yang dirasakan masyarakat menjadi salah satu alasan penting dilakukannya normalisasi Kali Cakung Lama. Dalam dialog dengan warga, lanjut dia, Pemprov DKI Jakarta menerima laporan bahwa banjir di sejumlah wilayah Kelapa Gading sebelumnya dapat mencapai ketinggian paha orang dewasa. Kondisi serupa juga terjadi di sejumlah titik di Cilincing, dengan ketinggian genangan yang dapat mencapai lutut hingga paha orang dewasa.Gubernur berharap normalisasi dapat mempercepat aliran air dari kawasan terdampak menuju muara. Dengan kapasitas aliran yang lebih baik, air di wilayah yang selama ini menjadi langganan banjir diharapkan dapat lebih cepat surut.Berdasarkan kalkulasi yang dilakukan pemerintah, normalisasi Kali Cakung Lama diperkirakan dapat mengurangi sekitar 20 persen dari banjir yang terjadi di kawasan tersebut.Pengurangan tersebut diharapkan memberikan dampak langsung bagi masyarakat, terutama mereka yang tinggal di wilayah Kelapa Gading dan Cilincing.“Dari hasil kalkulasi perhitungan diharapkan bisa mengurangi 20 persen dari banjir yang ada di area ini,” katanya.Ia menjelaskan, normalisasi akan membantu mendorong aliran air menuju muara dan selanjutnya ke laut. Dengan demikian, air yang sebelumnya tertahan dan menggenangi permukiman diharapkan dapat lebih cepat dialirkan keluar dari kawasan.Normalisasi Kali Cakung Lama tidak hanya ditujukan untuk mengurangi ketinggian banjir, tetapi juga memperbaiki sistem aliran air di kawasan tersebut.Pramono juga berharap setelah normalisasi dilakukan, air dari kawasan yang terdampak dapat mengalir lebih lancar menuju muara. Kondisi ini diharapkan mempercepat proses surutnya genangan ketika terjadi hujan dengan intensitas tinggi.Dengan proyeksi pengurangan banjir sekitar 20 persen, normalisasi Kali Cakung Lama diharapkan menjadi salah satu langkah penting dalam memperkuat pengendalian banjir di Jakarta Utara, khususnya di Kelapa Gading dan Cilincing.

Normalisasi Kali Ca...

Normalisasi Kali Cakung Lama Ditargetkan Tuntas 2028, Kampung Begog Jadi Titik KunciPemerintah Provinsi DKI Jakarta menargetkan normalisasi Kali Cakung Lama dapat dilaksanakan dan diselesaikan pada 2028. Salah satu tahapan penting dalam rencana tersebut adalah penanganan Kampung Begog yang disebut menjadi _bottleneck_ atau titik hambatan utama aliran air sebelum menuju muara.Lebih lanjut, proses penetapan lokasi (penlok) di Kampung Begog tengah disiapkan. Penlok tersebut diharapkan dapat segera ditandatangani sehingga tahapan pembebasan lahan dan pekerjaan normalisasi Kali Cakung Lama dapat berjalan.“Untuk Cakung Lama yang kita ada ini, mudah-mudahan bulan depan di ujung, Kampung Begog yang menjadi bottleneck utama sebelum ke muara, penloknya bisa segera saya tanda tangani,” ujar Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung seusai meninjau Kali Cakung Lama di Jalan Gading Griya Lestari, Pegangsaan Dua, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis (13/8/2026).Menurutnya, penanganan titik tersebut menjadi bagian penting untuk mendukung kelancaran aliran Kali Cakung Lama menuju muara.Kali Cakung Lama menjadi salah satu dari tiga sungai yang diprioritaskan untuk dinormalisasi pada era kepemimpinannya, bersama Kali Krukut dan Sungai Ciliwung.Jika proses persiapan, termasuk pembebasan lahan, berjalan sesuai rencana, normalisasi Kali Cakung Lama diharapkan dapat dilakukan hingga rampung pada 2028.“Harapannya di tahun 2028, normalisasi Cakung Lama ini bisa dilakukan dan selesai,” kata Pramono.Target tersebut menjadi bagian dari komitmen Pemprov DKI Jakarta untuk memperkuat penanganan banjir melalui normalisasi sungai secara lebih serius, tidak hanya berfokus pada sungai-sungai besar yang selama ini menjadi prioritas.Dalam proses pembebasan lahan untuk normalisasi Kali Cakung Lama, Pemprov DKI Jakarta juga akan menerapkan pola yang sebelumnya digunakan dalam penanganan Ciliwung, yakni meminimalkan keterlibatan perantara atau middleman.Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta akan membuka posko di lokasi pembebasan lahan. Posko tersebut menjadi tempat masyarakat menyampaikan berbagai persoalan, termasuk masalah kepemilikan tanah, keluhan, maupun harapan warga.Setiap persoalan yang masuk akan dicatat dan dilaporkan agar dapat ditindaklanjuti secara langsung. Pola tersebut dinilai berhasil diterapkan dalam proses normalisasi Ciliwung karena mampu mencegah persoalan pembebasan lahan berkembang menjadi konflik yang lebih besar.“Mudah-mudahan apa yang kita lakukan di Cakung Lama, Krukut dan juga Ciliwung bisa selesai tepat waktu seperti yang direncanakan,” ucap Gubernur.
Go To Top