Pilih Sistem GPS Tracking yang ingin diakses Mail Merge Logo GPS Alat Berat Mail Merge Logo GPS Dumptruck Mail Merge Logo GPS Pompa Mobile

Berita & Artikel

Gubernur Resmikan S...

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meresmikan Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik (SPALD) di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, Jumat (13/3/2026). Dalam peresmian ini, Gubernur didampingi Bupati Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, Muhammad Fadjar Churniawan; Kepala Dinas SDA DKI Jakarta, Ika Agustin Ningrum; Suku Dinas SDA Kepulauan Seribu, Mustajab.Ia menyampaikan bahwa pembangunan SPALD ini merupakan bagian dari upaya Pemprov DKI Jakarta meningkatkan kualitas sanitasi dan lingkungan, khususnya di wilayah kepulauan.“Infrastruktur sanitasi seperti SPALD ini sangat penting untuk menjaga kesehatan masyarakat sekaligus kebersihan lingkungan di Kepulauan Seribu,” ucapnya.Terdapat lima zona IPAL eksisting yang dibangun pada 2012 hingga 2013 dan berkapasitas total 195 m³ per hari. Namun berdasarkan inspeksi di lapangan, ditemukan bahwa IPAL zona 2 dan zona 3 melayani di luar kapasitas semestinya.Zona 2 memiliki kapasitas 113 SR dan melayani 245 SR. Sedangkan zona 3 berkapasitas 113 SR dan melayani 129 SR. Karena itu, terjadi over capacity dan perlu dilakukan pengembangan melalui pembangunan dan peningkatan SPALD Pulau Pramuka.Pembangunan dan peningkatan SPALD di Pulau Pramuka diharapkan dapat menjadi sarana pengolahan air limbah domestik agar lebih maksimal dan memiliki fungsi ekologis dengan tetap memperhatikan kondisi lingkungan serta masyarakat setempat.Melalui peningkatan SPALD ini maka akan meningkatkan kualitas lingkungan dan kesehatan warga, mengurangi pencemaran laut dan bau tidak sedap, mendukung pariwisata bersih dan berkelanjutan, dan menjadi prototype pengelolaan SPALD terpadu di wilayah Kepulauan Seribu.

1.200 Pompa Dikerah...

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta bergerak cepat menangani genangan dan banjir setelah hujan deras mengguyur Jakarta sejak Sabtu malam hingga Minggu (8/3). Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta mengerahkan ribuan petugas ke lapangan serta mengoperasikan pompa air untuk mempercepat surutnya genangan.Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta hingga pukul 11.00 WIB, banjir tercatat merendam 147 rukun tetangga (RT) dan menggenangi 19 ruas jalan di sejumlah wilayah Jakarta. Ketinggian air bervariasi, mulai sekitar 20 sentimeter hingga 1,7 meter di beberapa titik.Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menjelaskan, curah hujan di Jakarta dan sekitarnya tergolong sangat tinggi. Dalam satu hari, intensitas hujan tercatat mencapai 264 milimeter, jauh di atas rata-rata curah hujan harian.“Hari ini di Jakarta dan sekitarnya, curah hujan mencapai 264 milimeter per hari. Itu termasuk curah hujan yang sangat tinggi,” ujar Gubernur Pramono di Jakarta, pada Minggu (8/3).Data BMKG mencatat curah hujan ekstrem terjadi di dua wilayah ini Sunter Hulu (Cilangkap, Jaktim) dan di kawasan Pompa Arcadia (Kalibata, Jaksel).Sejak Sabtu malam, Pemprov DKI langsung mengoordinasikan langkah penanganan bersama jajaran terkait, terutama Dinas SDA. Pompa air di sejumlah titik rawan genangan segera dioperasikan untuk mempercepat penyedotan air.“Sejak semalam saya sudah berkoordinasi dengan jajaran, terutama Dinas Sumber Daya Air. Bahkan di beberapa titik pemompaan sudah dilakukan sejak malam,” ungkap Gubernur Pramono.Untuk mempercepat penanganan, Pemprov DKI mengerahkan sekitar 1.200 unit pompa pengendali banjir yang terdiri dari 668 unit pompa stasioner di 243 lokasi dan 536 unit pompa mobile yang ditempatkan di berbagai lokasi rawan banjir. Penyedotan air terus dilakukan, antara lain di kawasan Jalan Daan Mogot, Jakarta Barat, serta sejumlah ruas jalan utama lainnya.Selain tingginya curah hujan di Jakarta, Gubernur Pramono juga mengingatkan potensi tambahan debit air dari wilayah hulu dan daerah penyangga seperti Bogor dan Tangerang yang turut diguyur hujan deras.Berdasarkan data dari pemantauan tinggi muka air (TMA) di sejumlah sungai yang mengalir di Jakarta menunjukkan adanya kenaikan sejak Sabtu (7/3) sore hingga Minggu (8/3) dini hari.Aliran Kali Ciliwung sempat berstatus Waspada dengan TMA lebih dari 750 cm di Pintu Air Manggarai pada Minggu (8/3) pukul 02.00 WIB dan hampir Siaga dengan ketinggian 845 cm pada pukul 07.00 WIB. TMA kemudian berangsur surut hingga akhirnya normal kembali pada sekira pukul 13.00 di angka 715 cm.Sementara di hulu Kali Angke, TMA merangkak naik mencapai 200 cm pada pukul 16.00 WIB (Waspada). TMA kembali meningkat pada pukul 18.00 WIB di angka 250 cm (Siaga). Kemudian pada Minggu pukul 01.00 WIB, TMA di Angke Hulu mencapai lebih dar 300 cm (Bahaya). Bahkan sempat mencapai 400 cm pada pukul 07.00 WIB.Kondisi serupa juga terjadi di aliran Cengkareng Drain yang mulai berstatus Waspada sejak Sabtu pukul 14.00 dengan ketinggian 206 cm. TMA kemudian mencapai 276 cm (Siaga) pada 16.00 WIB dan terus merangkak naik hingga 314 cm (Bahaya) pada Minggu pukul 01.00 WIB. Puncaknya TMA di Cengkareng Drain mencapai 380 cm pada pukul 08.00 WIB.Kemudian di hulu Kali Sunter TMA mulai naik pada pukul 16.00 WIB di 150 cm (Waspada). Kemudian kembali naik menjadi Siaga dengan ketinggian 250 cm pada Minggu 01.00 WIB. Puncaknya mencapai 250 cm (Bahaya) pada pukul 02.00 WIB dan 03.00 WIB dan baru berangsur surut pada pukul 08.00 WIB.“Karena di wilayah atas, baik di Bogor maupun Tangerang, curah hujan juga tinggi, pasti ada air yang mengalir ke Jakarta,” tutur Gubernur Pramono, seraya mengimbau masyarakat tetap waspada dan mengikuti informasi resmi terkait kondisi cuaca serta potensi genangan di wilayah masing-masing.Dalam jangka menengah, Pemprov DKI terus memperkuat pengendalian banjir melalui program normalisasi sungai. Saat ini normalisasi dilakukan di tiga sungai utama, yakni Ciliwung, Cakung Lama, dan Krukut. Normalisasi Kali Cakung Lama ditargetkan rampung pada 2027 dan diharapkan dapat mengurangi risiko banjir di sejumlah kawasan Jakarta secara signifikan.

Waduk-Embung Berpot...

Sejumlah waduk/situ/embung di Jakarta punya peluang untuk dijadikan tempat wisata alam atau ekowisata. Hal ini disampaikan Kepala Bidang Geologi, Konservasi Air Baku dan Penyediaan Air Bersih Dinas SDA Provinsi DKI Jakarta, Nelson dalam Podcast Rabu Belajar, Rabu 25 Februari 2026.“Jadi apakah pemanfaatan waduk melalui kerja sama dengan masyarakat bisa dilakukan untuk pembuatan ekowisata? Sebetulnya ke depan ini mungkin bisa dilakukan,” ujarnya.Ia menambahkan bahwa untuk menerapkan ketentuan terkait kawasan ekowisata tersebut perlu dilakukan sejumlah persiapan.“Untuk saat ini kita memang harus menyiapkan mekanisme regulasinya,” kata Nelson.Waduk/situ/embung di Jakarta, sambung dia, sudah didesain tidak hanya sebagai penampung debit air lebih saat hujan, melainkan juga sebagai konservasi air baku hingga ruang terbuka yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.Sebagian waduk/situ/embung kini dilengkapi area untuk publik misalnya trek jogging, ruang terbuka hijau (RTH), dan lainnya. Sebab, pendekatan pengelolaan air yang mengintegrasikan ekosistem alami dengan infrastruktur buatan sehingga lebih adaptif terhadap perubahan alam (solusi berbasis alam/Nature-Based Solution (NBS) diterapkan.Dinas SDA DKI Jakarta saat ini sudah memiliki waduk/situ/embung yang mengarah pada konsep NBS seperti Ruang Limpah Sungai (RLS) Brigif di dan RLS Lebak Bulus Jakarta Selatan dan RLS Pondok Ranggon di Jakarta Timur. Ada pula Embung Giri Kencana di Cilangkap, Jakarta Timur dan Embung Lapangan Merah di Srengseng Sawah, Jakarta Selatan. Kemudian juga Waduk Aseni di Semanan, Jakarta Barat, yang belum lama ini dikunjungi Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno.Selain itu, sejumlah waduk yang masih dibangun seperti Waduk Batu Bangkong, Waduk Bambu Hitam, Waduk Giri Kencana, dan Waduk Lapangan Merah juga mengarah pada konsep NBS.Berdasarkan data, saat ini terdapat 147 waduk/situ/embung yang tersebar di 5 wilayah kota administrasi Jakarta. Dari jumlah tersebut, sebanyak 61 di antaranya berada di Jakarta Timur, 35 di Jakarta Selatan, 25 di Jakarta Utara, 23 di Jakarta Barat, dan 3 di Jakarta Pusat, dengan total luas embung/waduk terbangun mencapai 437,67 hektare dengan kapasitas tampungan sekitar 14.005.600 meter kubik.

Tak Hanya Pengendal...

Dinas Sumber Daya Air (SDA) Provinsi DKI Jakarta mengembangkan konsep Nature-Based Solution atau solusi berbasis alam dalam pembangunan waduk/situ/embung yang ada di Jakarta. Hal ini disampaikan Kepala Bidang Geologi, Konservasi Air Baku dan Penyediaan Air Bersih Dinas SDA Provinsi DKI Jakarta, Nelson dalam Podcast Rabu Belajar, Rabu 25 Februari 2026.“Jadi memang Dinas Sumber Daya Air sudah mulai mencoba mencoba pembangunan atau peningkatan waduk-waduk kita mengarah ke NBS,” ucapnya.Waduk/situ/embung nantinya tidak hanya didesain sebagai pengendali banjir yang dapat menampung air saat debitnya berlebih, tetapi juga dapat berfungsi untuk konservasi air baku dan ruang terbuka yang dapat diakses dan dimanfaatkan masyarakat.Konsep NBS saat ini sedang naik daun di tingkat global. Namun untuk di nasional masih terus dibahas oleh kementerian dan lembaga. Di sisi lain, Nelson menilai bahwa solusi berbasis alam ini menjadi salah satu jalan keluar pengendalian banjir sekaligus menjaga ekosistem berkelanjutan.“Kita akan mencoba bagaimana pengendalian air ini sudah mengarah kepada pedoman NBS atau konsep-konsep NBS yang sudah berkembang di dunia global atau dunia internasional,” ujarnya.Dinas SDA DKI Jakarta saat ini sudah memiliki waduk/situ/embung yang mengarah pada konsep NBS seperti Ruang Limpah Sungai (RLS) Brigif di dan RLS Lebak Bulus Jakarta Selatan dan RLS Pondok Ranggon di Jakarta Timur. Ada pula Embung Giri Kencana di Cilangkap, Jakarta Timur dan Embung Lapangan Merah di Srengseng Sawah, Jakarta Selatan. Kemudian juga Waduk Aseni di Semanan, Jakarta Barat, yang belum lama ini dikunjungi Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno.Selain itu, sejumlah waduk yang masih dibangun seperti Waduk Batu Bangkong, Waduk Bambu Hitam, Waduk Giri Kencana, dan Waduk Lapangan Merah juga mengarah pada konsep NBS.“Itu semuanya sudah mengarah ke konsep-konsep menuju NBS, di mana kawasan waduk atau embung ini tidak semata-mata menjadi hanya untuk pengendalian banjir atau air saja, tapi di sana juga sudah bisa menjadi ruang-ruang publik yang bisa diakses masyarakat sehingga menjadi ruang untuk berinteraksi jauh lebih baik dari era sebelumnya,” kata Nelson.Berdasarkan data, saat ini terdapat 147 waduk/situ/embung yang tersebar di 5 wilayah kota administrasi Jakarta. Dari jumlah tersebut, sebanyak 61 di antaranya berada di Jakarta Timur, 35 di Jakarta Selatan, 25 di Jakarta Utara, 23 di Jakarta Barat, dan 3 di Jakarta Pusat, dengan total luas embung/waduk terbangun mencapai 437,67 hektare dengan kapasitas tampungan sekitar 14.005.600 meter kubik.

Normalisasi Ciliwun...

Upaya pengendalian banjir di Jakarta terus dilanjutkan, salah satunya melalui normalisasi Kali Ciliwung di Kelurahan Cawang. Sebagai bagian dari proses tersebut, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melaksanakan pembayaran uang pengganti atau ganti rugi kepada warga terdampak proyek normalisasi.Hingga 25 Februari 2026 ini, tercatat sebanyak 35 bidang tanah milik warga di RW 03 Kelurahan Cawang sudah dibebaskan. Pembayaran dilakukan secara non-tunai melalui rekening bank. Penyerahan buku tabungan dan kartu ATM kepada warga menjadi simbol bahwa hak masyarakat telah dipenuhi.Warga yang sudah menerima uang pengganti ini diberikan waktu kurang lebih dua pekan untuk mengosongkan bangunan. Kegiatan ini merupakan langkah penting dalam mendukung percepatan penataan sungai. Proses ini diawali dengan pendataan, pengukuran, serta penilaian lahan oleh tim appraisal independen untuk memastikan nilai yang diberikan sesuai dan transparan.Normalisasi sungai/kali diharapkan tidak hanya menjadi solusi jangka pendek terhadap permasalahan banjir, tetapi juga menjadi fondasi bagi pengelolaan sungai yang lebih aman, tertata, dan berkelanjutan guna mendukung perkembangan wilayah perkotaan di masa mendatang.Kegiatan normalisasi sungai/kali ini dilakukan Pemrpov DKI bekerja sama dengan Pemerintah Pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum. Dinas SDA DKI Jakarta bertanggung jawab melakukan pembebasan lahan di Daerah Aliran Sungai (DAS). Sedangkan pekerjaan fisiknya seperti pembangunan tanggul dan pendukungnya dilakukan oleh Kementerian PU melalui BBWSCC.Seluruh kegiatan normalisasi dilakukan secara berkelanjutan.Kegiatan Pengadaan Tanah untuk mendukung upaya normalisasi kali terus berproses pada tahun 2026 sampai dengan 2027 dan harapannya dapat dilaksanakan pada 2028 sampai dengan 2029.

Update Pengerukan S...

Dinas Sumber Daya Air Provinsi DKI Jakarta melakukan pengerukan di waduk/situ/embung serta sungai/kali yang tersebar di 5 Kota Administrasi Jakarta. Kegiatan pengerukan ini dimulai sejak 2 Januari 2026 dan akan terus diperluas di waduk/situ/embung serta sungai/kali lainnya guna meningkatkan daya tampung badan air.Berdasarkan data hingga 6 Februari 2026, volume pengerukan di sungai/kali dan waduk/situ/embung yang dilakukan di 5 kota administrasi Jakarta telah mencapai 55.300 meter kubik (M3).Adapun pengerukan dilakukan di 149 titik dengan rincian sebagai berikut:59 titik di Jakarta Timur 45 titik di Jakarta Barat 14 titik di Jakarta Utara 24 titik di Jakarta Selatan 7 titik di Jakarta PusatPengerukan di waduk/situ/embung dilakukan dengan mengangkut sedimen lumpur yang mengendap untuk memaksimalkan kembali daya tampung waduk/situ/embung.Sementara pengerukan sungai/kali penting untuk menghilangkan sedimen, sampah, dan polutan, memperlancar aliran air, mencegah banjir, serta menjaga kesehatan lingkungan dan ekosistem sungai.Ketika sungai/kali dikeruk, kedalamannya akan kembali seperti semula, memungkinkan air mengalir dengan lancar, bahkan saat volume air meningkat akibat hujan deras. Dengan demikian, risiko banjir dapat diminimalkan.

Gubernur Tinjau Lok...

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta akan membangun sistem polder dan rumah pompa di Jl Daan Mogot, Cengkareng, Jakarta Barat. Pembangunan akan dilakukan di empat titik sepanjang Jalan Daan Mogot. Sebanyak 3 titik di Jalan Daan Mogot Km 13, Kel. Cengkareng Timur dan 1 titik di Rumah Pompa Departemen Agama (Depag) di Kel. Kedaung Kali Angke, Kec. Cengkareng."Kami akan memasang pompa stasioner tiga di sini sekaligus, yaitu di Km 13, 13A, dan 13B," kata Gubernur Pramono Anung saat meninjau Jl Daan Mogot Km 13, Cengkareng, Jakarta Barat, pada Selasa (3/2/2026).Untuk di Km 13 akan dibangun 3 unit pompa dengan 1 meter kubik per detik. Kemudian di Km 13A dibangun 3 unit berkapasitas 0,5 meter kubik per detik dan di Km 13B sebanyak 3 unit berkapasitas 1 meter kubik per detik. Sedangkan untuk di Pompa Depag akan dibangun 4 unit pompa berkapasitas 1 meter kubik per detik. Sehingga kapasitas totalnya sebesar 11,5 meter kubik per detik.Selain rumah pompa, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta membangun saluran pendukung guna mengoptimalkan kinerja sistem polder. Saluran tersebut meliputi Saluran Gendong sisi utara dan sisi selatan masing-masing sepanjang kurang lebih dua kilometer, serta saluran penyeberangan (crossing) di Jalan Raya Daan Mogot.Pembangunan sistem polder dan rumah pompa Daan Mogot diharapkan menurunkan beban debit air pada Sistem Polder Cengkareng serta Polder Kapuk Poglar, sehingga kapasitas tampungan di kedua sistem tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal."Kami berharap dengan penanganan itu secara jangka pendek akan teratasi persoalan banjir yang ada di Daan Mogot KM 13 ini," ucap Pramono.Sementara itu, Kepala Dinas SDA DKI Jakarta Ika Agustin Ningrum menyampaikan bahwa pembangunan sistem tata air di Km Jl Daan Mogot ini termasuk dalam salah satu paket pekerjaan JakTirta Project yang akan dikerjakan pada periode 2025-2027."Pembangunan Pompa Daan Mogot yang sudah bertanda tangan kontra tanggal 22 Desember 2025 dan merupakan bagian dari JakTirta Project," tuturnya.

Tak Hanya Pengendal...

Wakil Gubernur (Wagub) DKI Jakarta, Rano Karno mengatakan bahwa Waduk Aseni merupakan ruang terbuka biru (RTB) baru di Jakarta Barat yang tidak hanya berfungsi sebagai pengendali banjir, tetapi juga sebagai ruang terbuka yang dapat dimanfaatkan masyarakat. Demikian disampaikan Wagub saat mengunjungi Waduk Aseni di Jalan H. Aseni Raya, Kalideres, Jakarta Barat, pada Jumat (30/1).“Tujuan utamanya pengendalian banjir yang dilengkapi dengan ruang publik,” ucapnya.Waduk Aseni memiliki luas total 4,47 hektare, terdiri atas badan air seluas 1,7 hektare dengan kedalaman 4 meter dan area kering seluas 2,7 hektare. Dengan kapasitas tampung mencapai 69.600 meter kubik, Waduk Aseni diharapkan mampu mereduksi potensi banjir hingga 13,1 persen.Di kawasan waduk juga dibangun Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang direncanakan melayani sekitar 2.260 jiwa. IPAL tersebut memiliki kapasitas sekitar 470 meter kubik per hari yang menampung air limbah dari drainase kawasan sekitar waduk.Pembangunan Waduk Aseni bertujuan menambah kapasitas tampungan air hujan yang dapat dimanfaatkan sebagai alternatif sumber air baku, mengurangi debit aliran Kali Semanan, serta menyediakan ruang interaksi publik.“Ini akan menjadi tempat yang sangat baik. Warga setempat bisa memanfaatkannya,” kata Wagub Rano.Selain berfungsi sebagai pengelolaan sumber daya air dan pengendali banjir, Waduk Aseni dilengkapi berbagai fasilitas pendukung, seperti balai warga, toilet, musala, area bermain anak, serta area duduk berupa sunken plaza.Pembangunan Waduk Aseni saat ini masih dalam tahap penyelesaian (finishing). Wagub pun berharap pembanguannya akan segera rampung pada Maret 2026 ini agar dapat dimanfaatkan masyarakat.“Karena itu, fasilitas ini harus dimanfaatkan untuk kepentingan warga. Namun, saya juga berpesan agar waduk ini dijaga dengan baik supaya manfaatnya berkelanjutan,” tuturnya.

Pesisir Jakarta Tid...

Wilayah utara Jakarta teridentifikasi aman dari potensi banjir rob sepanjang Februari 2026 ini. Hal ini berdasarkan hasil pemodelan kondisi penurunan tanah, sea level rise, elevasi pesisir, dan pasang surut Teluk Jakarta.Pesisir Jakarta tidak berpotensi mengalami banjir rob karena pasang laut yang rendah, dengan pasang tertinggi 1,07 meter dari low water spring (LWS).Wilayah rentan yang tidak berpotensi banjir rob di antaranya:TanjunganMuara AngkeMuara BaruPasar IkanAncol Marina dan JISTanjung Priok dan Kali BaruMarundaMeski demikian, potensi banjir rob bergantung pada laju penurunan permukaan tanah serta upaya penanggulangan yang dilakukan.Adapun upaya mitigasi yang dilakukan Dinas Sumber Daya Air (SDA) Provinsi DKI Jakarta melalui Suku Dinas SDA Jakarta Utara tetap melakukan penyiagaan dan pengoperasian pompa serta berbagai upaya antisipasi potensi banjir rob.Penyiagaan Pompa Stasioner, Pompa Mobile dan Pintu AirTerdapat sebanyak 171 unit pompa stasioner di 56 lokasi dan 126 unit pompa mobile di wilayah Kota Administrasi Jakarta Utara. Pompa mobile digunakan untuk menjangkau lokasi banjir yang tidak terlayani pompa stasioner.Berikut daftar rumah pompa dan pintu air di pesisiryang disiagakan:- Pintu Air Marina- Pompa/Polder Kali Asin- Pompa Ancol- Pompa Junction PIK- Pompa Muara Angke- Pompa Pasar Ikan- Pompa Tanjungan- Pompa Polder KamalPenyiagaan Satgas SDADinas SDA juga menyiagakan Satgas (Pasukan Biru) yang siap bergerak jika terjadi banjir rob di pesisir Jakarta. Pasukan Biru ini juga dikerahkan untuk berjaga dan melakukan pemantauan rutin demi memastikan kondisi lapangan tetap terkendali.Pembangunan Tanggul DaruratDinas SDA juga mengambil langkah preventif dengan membangun tanggul darurat dan tanggul mitigasi di titik-titik rawan terjadi banjir rob di antaranya di Jl Mandala Bahari (Green Bay Pluit) dan juga Muara Angke, Jakarta Utara. Pembangunan tanggul tersebut dilakukan sebagai langkah jangka pendek sambil menunggu tuntasnya pembangunan tanggul pengaman pantai National Capital Integrated Coastal Development (NCICD) Fase A yang direncanakan bakal tuntas pada 2030 mendatang.Pembangunan Tanggul NCICD Fase APembangunan Tanggul National Capital Integrated Coastal Development atau NCICD Fase A merupakan salah satu upaya untuk melindungi pesisir utara Jakarta dari ancaman banjir rob di yang terintegrasi dengan sistem pengendali banjir dan sistem polder sekaligus melakukan penataan kawasan atau pengembangan pesisir pantai Jakarta. Pelaksanaan pembangunan NCICD Fase A ini terbagi melalui Pemerintah Pusat oleh Kementerian PU dan Pemprov DKI Jakarta melalui Dinas Sumber Daya Air. Khusus untuk Dinas Sumber Daya Air Provinsi DKI Jakarta, pengerjaan NCICD Fase A berfokus pada area pengaman pantai, garis pantai dan muara kali.Serangkaian langkah antisipasi banjir rob tersebut diharapkan efektif mengantisipasi dan mengatasi potensi limpasnya air laut ke daratan, khususnya di pesisir utara Jakarta, sehingga masyarakat dapat tetap melakukan aktifitasnya sehari-hari.Masyarakat diimbau agar tetap berhati-hati dan waspada terhadap potensi genangan. Masyarakat juga dapat memantau perkembangan banjir rob melalui laman bpbd.jakarta.go.id/gelombanglaut, Aplikasi JAKI atau menghubungi 112 jika mendapatkan kondisi darurat.
Go To Top