Sebagai kota pesisir dengan populasi sekitar 11 juta jiwa, Jakarta memiliki hubungan yang sangat erat dengan air. Kota ini berada di hilir 13 sungai yang mengalir dari wilayah hulu menuju laut, sekaligus menghadapi ancaman banjir rob, curah hujan ekstrem, penurunan muka tanah, dan keterbatasan kapasitas drainase.Dalam beberapa tahun terakhir, intensitas hujan di Jakarta dapat mencapai 250–377 mm hanya dalam empat jam, sementara kapasitas sistem drainase yang ada berkisar antara 100–150 mm. Di sisi lain, penurunan muka tanah yang mencapai 8–20 cm per tahun memperbesar risiko genangan dan banjir, terutama di wilayah pesisir utara.Kondisi tersebut menjadikan pengelolaan air sebagai salah satu agenda utama pembangunan Jakarta, tidak hanya untuk mengurangi risiko banjir tetapi juga untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Membangun Sistem Infrastruktur Pengendalian Banjir yang TerintegrasiPada acara World Cities Summit 2026 di Singapore beberapa waktu lalu, Kepala Dinas Sumber Daya Air Provinsi DKI Jakarta Ika Agustin Ningrum menyampaikan bahwa Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengembangkan pendekatan yang mengintegrasikan berbagai lapisan infrastruktur pengelolaan air untuk menghadapi berbagai tantangan tersebut.Upaya yang dilakukan mencakup pengelolaan sungai dan saluran drainase, pembangunan waduk dan kolam retensi, pengoperasian sistem polder dan pompa, serta perlindungan pesisir melalui program National Capital Integrated Coastal Development (NCICD).Pendekatan ini penting karena banyak wilayah Jakarta berada pada elevasi rendah sehingga air tidak dapat mengalir secara alami melalui gravitasi. Dalam kondisi tersebut, pompa menjadi komponen penting. Namun efektivitasnya sangat bergantung pada ketersediaan saluran yang memadai, kapasitas tampungan air yang cukup, kondisi sungai yang baik, dan perlindungan dari intrusi air laut.“Oleh karena itu, Jakarta terus bergerak menuju sistem pengelolaan air yang lebih terintegrasi, di mana seluruh komponen bekerja sebagai satu kesatuan.” Mengembalikan Ruang untuk Air Melalui Solusi Berbasis AlamSelain pembangunan infrastruktur fisik, Jakarta menyadari bahwa ketahanan kota tidak dapat hanya mengandalkan pendekatan teknis atau grey infrastructure.Saat ini ruang terbuka hijau Jakarta mencapai sekitar 5,6 persen dari luas wilayah kota atau sekitar 3.703,6 hektare. Meskipun menunjukkan peningkatan, angka tersebut masih menggambarkan keterbatasan ruang hijau dan ruang biru yang tersedia.Karena itu, Jakarta berupaya mengembalikan fungsi ruang biru dan hijau melalui pembangunan waduk, koridor sungai, kawasan tampungan air, serta ruang terbuka publik yang terintegrasi dengan fungsi pengendalian banjir.Pendekatan ini tidak hanya bertujuan mengurangi risiko banjir, tetapi juga meningkatkan kualitas lingkungan, menyediakan ruang rekreasi bagi masyarakat, serta memperkuat hubungan warga dengan alam.Di wilayah pesisir dan Kepulauan Seribu, pendekatan serupa diterapkan melalui rehabilitasi dan penanaman mangrove. Langkah ini menunjukkan bahwa perlindungan pesisir yang efektif tidak hanya bergantung pada struktur beton, tetapi juga pada kekuatan ekosistem alami. Tata Guna Lahan dan Dimensi Sosial Ketahanan KotaPengelolaan air tidak dapat dipisahkan dari tata guna lahan. Pertumbuhan kawasan perkotaan yang pesat telah mengurangi ruang alami bagi air untuk meresap dan mengalir. Karena itu, normalisasi sungai, perluasan waduk, dan pengembangan ruang biru-hijau sering kali membutuhkan proses pengadaan lahan.Salah satu contoh yang sedang berjalan adalah penataan kawasan Sungai Ciliwung. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional melakukan inventarisasi lahan dan penyusunan kebijakan untuk mendukung penataan kawasan bantaran sungai.Masyarakat yang memiliki dasar hukum atas lahannya akan memperoleh kompensasi sesuai ketentuan, sementara warga yang tidak memiliki dasar hukum diberikan opsi relokasi ke rumah susun yang disediakan pemerintah. Pendekatan ini menunjukkan bahwa ketahanan kota bukan hanya persoalan infrastruktur, tetapi juga menyangkut keadilan sosial dan perlindungan hak-hak masyarakat. Meningkatkan Kualitas Air Melalui Pengelolaan Air LimbahKetahanan air perkotaan tidak hanya berkaitan dengan pengendalian kelebihan air, tetapi juga kualitas air yang tersedia. Melalui Jakarta Sewerage Development Project, Jakarta tengah membangun sistem pengelolaan air limbah terpusat yang memisahkan jaringan drainase dari jaringan air limbah domestik. Proyek ini mencakup pembangunan jaringan perpipaan dari rumah dan bangunan menuju instalasi pengolahan air limbah (IPAL) terpusat.Beberapa spesifikasi utama proyek tersebut meliputi: Luas IPALD: 3,9 hektare Kapasitas pengolahan: 240.000 m³ per hari Panjang jaringan perpipaan: 78.501 meter Target pelayanan: 989.389 jiwa Proyek percontohan: 1.000 sambungan rumah Melalui sistem ini, pencemaran sungai dapat dikurangi, kualitas lingkungan meningkat, dan kesehatan masyarakat menjadi lebih terjamin. Ketahanan Kota Melalui Layanan Publik yang ResponsifKetahanan kota juga ditentukan oleh kemampuan pemerintah dalam merespons kondisi darurat. Jakarta memiliki Pasukan Biru yang bertugas menangani berbagai persoalan di lapangan, termasuk genangan dan gangguan drainase. Selain itu, masyarakat dapat melaporkan kejadian banjir melalui aplikasi JAKI sehingga pemerintah dapat memantau, memverifikasi, dan merespons laporan secara lebih cepat.Pendekatan ini menunjukkan bahwa ketahanan tidak hanya dibangun melalui proyek jangka panjang, tetapi juga melalui kehadiran layanan publik yang responsif sebelum, saat, dan setelah terjadi bencana. Pelajaran dari Pengalaman JakartaDari pengalaman Jakarta, terdapat beberapa pelajaran penting yang dapat dipetik oleh kota-kota lain.Pertama, pengelolaan banjir harus dilakukan secara menyeluruh dari hulu hingga hilir. Upaya di wilayah perkotaan tidak akan efektif tanpa perlindungan kawasan resapan dan pengelolaan daerah aliran sungai di wilayah hulu.Kedua, infrastruktur fisik dan solusi berbasis alam harus berjalan secara bersamaan. Pompa, tanggul, dan drainase tetap diperlukan, tetapi harus dilengkapi dengan ruang hijau, ruang biru, dan restorasi ekosistem.Ketiga, tata ruang dan kebijakan perumahan merupakan bagian penting dari strategi ketahanan air. Penataan bantaran sungai dan pengadaan lahan harus dilakukan dengan mempertimbangkan aspek sosial dan keadilan.Keempat, pengelolaan air harus terhubung dengan sektor lain seperti sanitasi, transportasi, ruang publik, dan pelayanan masyarakat. Prioritas Jakarta dalam 10–15 Tahun MendatangDalam satu hingga satu setengah dekade ke depan, prioritas utama Jakarta adalah membangun sistem ketahanan air yang semakin terintegrasi.Beberapa agenda strategis yang perlu diprioritaskan meliputi: Mempercepat perlindungan kawasan resapan air dan daerah hulu. Menyelesaikan penataan bantaran sungai dan normalisasi sungai utama. Memperluas kapasitas waduk, kolam retensi, dan ruang tampungan air perkotaan. Memperkuat sistem polder, pompa, dan tanggul laut untuk menghadapi penurunan muka tanah dan kenaikan muka air laut. Mempercepat pembangunan sistem pengelolaan air limbah terpusat. Meningkatkan proporsi ruang terbuka hijau dan ruang terbuka biru. Mengintegrasikan infrastruktur air dengan transportasi publik dan ruang kota. Memperkuat partisipasi masyarakat dalam pengelolaan lingkungan dan pengurangan risiko bencana. Jakarta masih berada dalam proses menuju kota yang lebih tangguh terhadap perubahan iklim. Tantangan yang dihadapi memang besar, mulai dari banjir, penurunan muka tanah, hingga tekanan urbanisasi yang terus meningkat.Namun pengalaman Jakarta menunjukkan bahwa ketahanan kota tidak dapat dibangun hanya melalui proyek infrastruktur semata. Ketahanan memerlukan integrasi antara pengelolaan air, tata ruang, perlindungan ekosistem, perumahan, sanitasi, transportasi, dan pelayanan publik.Dengan pendekatan yang terintegrasi serta kolaborasi yang berkelanjutan, Jakarta memiliki peluang untuk berkembang menjadi kota yang lebih aman, tangguh, dan layak huni bagi generasi mendatang.